• Jumat, 7 Oktober 2022

Kesalahpahaman Gajah Mada Dalam Memulai Perang Bubat dan Upaya Menghapus Dampaknya

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 21:15 WIB
Kesalahpahaman Gajah Mada Dalam Memulai Perang Bubat dan Upaya Menghapus Dampaknya.  (Istimewa)
Kesalahpahaman Gajah Mada Dalam Memulai Perang Bubat dan Upaya Menghapus Dampaknya. (Istimewa)




SINERGI PAPERS - Perang Bubat terjadi pada tahun 1279 Saka atau pada tahun 1357 M di abad ke 14.

pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dalam sejarah Kerajaan Majapahit.

Terjadinya perang tersebut akibat adanya perselisihan antara Gajah Mada dan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda.

Tindakan Gajah Mada yang menimbulkan dampak perang bubat hingga berabad – abad kemudian dilatari oleh Sumpah Palapa yang dibuatnya sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

Baca Juga: Pesona Candi Rimbi Wonosalam Jombang

Dari semua kerajaan yang sudah dikuasai Majapahit, hanya kerajaan Sunda yang belum pernah dikuasai.

Karena itu Gajah Mada meyakinkan Hayam Wuruk untuk menganggap kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri kepada Majapahit.

Hayam Wuruk didesak untuk menerima Dyah Pitaloka sebagai tanda penyerahan kerajaan Sunda dan pengakuan akan kekuasaan Majapahit atas Sunda.

Raja Linggabuana dan rombongannya akhirnya setuju untuk menikahkan putrinya di Majapahit karena menganggap memang masih ada ikatan persaudaraan antara dua kerajaan tersebut.

Baca Juga: Kilas Balik Mitos Pesona Keindahan Candi Bajang Ratu, Peninggal Kerajaan Majapahit

Mereka diterima di Pesanggrahan Bubat di wilayah Majapahit. Mereka hanya membawa sedikit prajurit saja.

 Ketika Gajah Mada menyampaikan niatnya tersebut, utusan Linggabuana terkejut dan marah serta menolak.

 Sebelum Hayam Wuruk memberikan instruksi, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannnya ke Bubat dan mengancam Linggabuana agar mau mengakui kekuasaan Majapahit.

Peperangan terjadi karena Linggabuana menolaknya, dan suatu peperangan yang tidak seimbang karena pasukan Linggabuana berjumlah kecil.

Baca Juga: Sejarah Candi Kesiman Tengah Peninggalan Kerajaan Majapahit, Arti Relief di Candi

hanya terdiri dari pasukan pengawal kerajaan, para pejabat dan menterinya saja


Akhir pertempuran sudah bisa ditebak, Raja Sunda dan pengikutnya gugur.

Sesuai tradisi, putri Dyah Pitaloka melakukan bela pati yaitu tindakan bunuh diri untuk membela kehormatan bangsanya.

Tindakan ini sesuai dengan tata perilaku dan nilai yang dianut oleh kasta ksatriya.

Para perempuan kasta ksatriya akan bunuh diri jika kaum laki – lakinya gugur untuk membela harga diri dan melindungi kesucian diri mereka.

Baca Juga: Sejarah Candi Ngetos Peninggalan Kerajaan Majapahit Pada Masa Raja Hayam Wuruk

menghindari kemungkinan dipermalukan, pemerkosaan, penganiayaan, atau resiko diperbudak. Ketahui juga mengenai sejarah candi kedaton , candi di Mojokerto dan sejarah candi jabung.

Upaya Menghilangkan Mitos

Dampak perang bubat masih terpelihara di antara masyarakat karena diturunkan melalui dongeng – dongeng lintas generasi.

Sejarah perang bubat masih diceritakan dari mulut ke mulut dan hanya ditafsirkan sebagai kesalahan seluruh suku Jawa daripada sebagai kesalahan fatal satu orang saja, yaitu Gajah Mada.

Walaupun tidak ada prasasti satu pun yang dapat ditemukan mengenai perang tersebut, cerita turun temurun sudah cukup untuk dipercaya sebagian masyarakat.

Baca Juga: Sejarah Singkat Nama Raja Pada Kerajaan Majapahit Mulai Dari Awal Berdiri Hingga Runtuhya - Bagian 2

 Bahkan bagi sebagian orang Sunda, perang bubat hingga saat ini masih menjadi luka lama dan bisa memicu timbulnya emosi kolektif pada masyarakat.

dan berbahaya karena dapat merenggangkan hubungan antara masyarakat Jawa dan Sunda.

Untuk menghilangkan mitos tersebut dan menghindari perpecahan, pemerintah mengambil langkah nyata dengan meresmikan nama jalan di kawasan Ring Road DIY pada tanggal 3 Oktober 2017.

Baca Juga: Sejarah Singkat Candi Sumur Peninggalan Kerajaan Majapahit, Sidoarjo Jawa Timur

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan beserta Gubernur Jawa Timur adalah para pimpinan daerah yang meresmikannya.

 Pada jalan yang melingkari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut terdapat nama jalan Siliwangi, jalan Pajajaran, jalan Majapahit dan jalan Brawijaya.

Dengan peresmian nama – nama jalan tersebut diharapkan dapat mematahkan mitos mengenai hubungan orang Jawa dan Sunda serta perlahan melepaskan diri dari mitos perang bubat di masa lalu. ***

Editor: Dadang Harumaya

Sumber: Sejarahlengkap.blogspot

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X